Sejarah Desa
Pada tahun 1947 awalnya terbentuklah pemerintahan yang dulunya dinamakan Distrik Simbang kemudian dalam waktu yang cukup singkat pemerintahan ini berubah menjadi Wilayah Kecamatan Bantimurung, dan pada tahun 1957 dibentuklah Koordinator Wilayah Jenetaesa yang dijabat oleh Karaeng Tompo hingga tahun 1965 berubalah namanya menjadi Desa Jenetaesa yang dipimpin oleh Dg Mula berdasarkan hasil Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang pertama kalinya digelar akhirnya Dg.Mula digantikan oleh Karaeng Tompo, Kemudian pada Tahun 1965 sampai 1969 kembali terjadi Pilkades yang kedua yang berhasil dijabat oleh H. Sadollah Hingga tahun 1999 Kades Jenetaesa baru digantikan berdasarkan hasil Pilkades oleh Mappong Kemudian Pilkades 2007 Dijabat oleh Kamaruddin sampai dengan sekarang dan berakhir masa jabatan 2012.dan Pada, Tahun 2013 diadakan Pemilihan Kepala Desa yang terpilih adalah Hasanuddin. T yang menjabat sampai sekarang.
Secara etimologi Desa Jenetaesa, diartikan Jene’ (Air) dan Ta esa (Keruh), jadi Jenetaesa adalah air yang tak pernah keruh, karena pada tahun 1957 saat itu Desa Jenetaesa Memiliki Sumber mata air yang sangat besar yang saat ini dinamakan Air Terjun Taman Wisata Alam Bantimurung, Pada tahun 1957 Desa Jenetaesa memiliki sumber mata air yang tak pernah surut dimana tempat itu dikenal dengan Bantimurung namun setelah pemekaran Desa air yang tak pernah surut atau yang lebih di kenal dengan Bantimurung ini masuk pada Wilayah Kecamatan Bantimurung.
Desa Jenetaesa memiliki dua Dusun Batubasi dan Dusun Bantimurung. Dusun Batubassi pada awalnya .Dusun Batubassi terletak di ibu kota Kecamatan Simbang yang dulunya merupakan Batas wilayah antara kerajaan Gowa dan kerajaan Bone yang mana pada saat itu rakyat kerajan Gowa dan rakyat kerajaan Bone sering terjadi peperangan yang oleh karena itu Petta Benteng Andi Marzuki yang merupakan keturunan Imangkau RiBone (Raja Bone) mengambil satu tindakan dengan membawa pasukanya berjaga-jaga di batas wilayah tersebut dan begitu pula dengan Bija pangngulua Ri Gowa ( Gote Dg.Paramma ) membawa pula pasukanya untuk berjaga-jaga di batas kerajaan tersebut.Namun tak lama kemudian Bija Pangngulua Ri Gowa bertemu dengan Petta Benteng Andi Marzuki dan mengmbil satu kesepakatan untuk mengamanahkan kepada Gote Dg.Paramma untuk tinggal di kampung ini dengan perjanjian Gote Dg.Paramma bisa tinggal dan berkuasa namun setiap pengambilan keputusan tetap mengambil pandangan atau saran dari Petta Benteng Andi Marzuki .
Namun meski kedua belah pihak telah mengadakan perjanjian namun rakyat dari keduanya tetap saja berperang, maka Gote Dg.Paramma dan Petta Benteng Andi Marzuki memanggil pemimpin dari kedua belah pihak untuk menghadap dan adapun hasil dari kedua belah pihak di sarankan untuk membawa satu tanda perdamaian yang mana masyarakat Gowa membawa Besi dan masyarakat Bone membawa Batu dan barang siapa yang melanggar perjanjian ini maka kedua belah pihak akan berhadapan dengan petinggi kerajaan Gowa dan Bone, dan jika rakyat dari kedua belah pihak hendak melintasi tapal batas tersebut maka di haruskan melapor pada pemangku adat yang ada di kampung tersebut, maka kampung yang merupkan tapal batas kerajaan tersebut dinamakan kampung Batubassi.,dan adapun Dusun yang kedua yakni Dusun Bantimurung yang membentang di sepanjang jalan poros Maros-Bone. Dalam Pejalanan Pemerintahan Di Jenetaesa (sebelum menjadi kecamatan), yang kemudian Distrik Simbang berubah nama menjadi Kecamatan Bantimurung. Pada tahun 1999, Kecamatan Bantimurung dimekarkan menjadi 2 (dua) wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Simbang (Definitif pada tahun 2001) dan Kecamatan Bantimurung itu sendiri. Desa JeneTaesa sejak keberadaannya sudah pernah mengalami pemekaran desa menjadi 3 (Tiga ) wilayah desa yaitu Desa Samangki, Sambueja dan Desa Simbang , dimana Desa Jenetaesa Menjadi dua Dusun yaitu Dusun Batu Bassi dan Bantimurung , pada tahun 2015 dimekarkan menjadi Empat dusun yaitu Dusun Tanadidi dan Dusun Bontolabbu dari induk Dusun Batu bassi, pada tahun 2023 terjadi musyawarah khusus pembentukan Dusun Parangtinggia yang pemekaran dari Dusun Batubassi. Jene Taesa bila dalam bahasa Indonesia mengandung arti air yang tidak pernah surut. Desa Jenetaesa dikenal sebagai tempat situs sejarah Karaeng Sabati Dg Siama atau Karaeng Batu Bassi , Pemerintahan Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang Kabupaten Maros.
Desa Jenetaesa memiliki luas 10,08 km² dan penduduk berjumlah 4.663 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 462,60 jiwa/km² pada tahun 2021. Pusat pemerintahan desa ini berada di Dusun Bantimurung. Desa Jenetaesa memiliki 5 dusun, yaitu Dusun Batubassi, Dusun Bantimurung, Dusun Tanadidi, Dusun Bontolabbu, dan Dusun Parangtinggia. Berikut adalah batas-batas wilayah Desa Jenetaesa.
Sebelah Utara : Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurug
Sebelah Timur : Desa Samangki Kecamatan Simbang
Sebelah Selatan : Desa Simbang Kecamatan Simbang
Sebelah Barat : Desa Tanete, Minasa Baji Kecamatan Bantimurung
| Tahun | Peristiwa Kepemimpinan Wilayah | Ket |
| 1957- 1965 | Karaeng Tompo | |
| 1965-1999 | H. Sadollah | |
| 1999-2007 | Mappong | |
| 2007-2012 | Kamaruddin | |
| 2013- 2019 | Hasanuddin. T | |
| 2019-Sekarang | Abdul Latif |
Desa Jenetaesa Selamat Datang di Website Resmi Pemerintahan Desa Jenetaesa